JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH

Sabtu, 16 Maret 2013

KRITIK SASTRA INDONESIA



KRITIK SASTRA NOVEL “SANG PEMIMPI”
1.      Identitas Buku
Judul               : sang Pemimpi
Penulis             : Andrea Hirata
Penerbit           : PT bentang Pustaka
Halaman          : X+ 292 Halaman
Cetakan           : ke- 14, Januari 2008
ISBN               : 979-3062-92-4
2.      Pratinjau
“Mimpi adalah bagian dari kehidupan seseorang, tanpa mimpi kita akan mati”
Sang pemimpi, merupakan nama yang sangat cocok dengan judul yang diberikan untuk novel ini, karena novel  ini akan membuat kita akan percaya pada kekuatan mimpi. Novel sang pemimpi merupakan sebuah pemaparan kisah mampu membuat kita sebagai pembaca percaya akan kekuatan mimpi dan sebuah pengorbanan.
Novel yang memiliki ending yang begitu mengesankan. Dan Novel yang memiliki alur yang bagus dan menarik. Tema cerita yang sederhana namun terbungkus kalimat-kalimat yang penuh makna. Dalam novelnya yang kedua tersebut penulis yang mengemas dan menata dengan bahasa yang sederhana, Imajinatif, tapi tetap memperhatikan kualitas isi dan penuh bahasa imajinatif. Sudah banyak orang yang menayampaikan bahwa pencapaian-pencapaian luar biasa yang berhasildicatat oleh umat manusia berasal dari mimpi yang begitu kuat. Tetapi disini tentu kita harus memandang mimpi disi sebagai sebuah keinginan yang ingin dicapai atau disebut dengan cita-cita. Bukan sebuah mimpi yang terkadang hanya menjadi bunga tidur dan hayalan belaka. Lewat novel ini juga penulis mampu menciptakan kata-kata yang menggugah jiwa pembacanya. Andrea hirata juga menyebutkan bahwa sikap pesimis dan tidak mau mencoba dan minder itu merupakan racun yang akan menggrogoti mimpi kita untuk menggapai cita-cita dan harapan kita. Karena hal tersebut akan menambah keterpurukan pemikiran kita terhadap apa yang telah kita mimpikan selama ini.
“meskipun kau penuhi celengan sebesar kuda sungguhan, sahabatku jimbron, tak kan pernah uang-uang receh itu mampu membiayainyamu sekolah ke perancis……demikian kata hatiku. Dan dengarlah itu, kawan. Siratan kalimat sinis dari orang pesimis. Ia adalah hantu yang beracun. Sikap itu mengekstrapolasi sebuah kurva yang turun  kebawah dan akan terus turun kebawah dan telah membuatku menjadi pribadi yang gelap dan picik. Seyogyanya sikap buruk yang berbuah keburukan: pesimisme menimbulkan sinis, lalu iri  dengki, lalu mungkin fitnah. Dan dengarlah ini, kawan nyata yang ddari sikap buruk itu. (Halaman 147)

Dalam novel sang pemimpi ini Andrea Hirata sabagai penulis, menyampaikan bahwa kita harus optimis dan harus berani untuk bermimpi, hal ini di sampaikannya dengan kemampuan bertuturnya dan dengan contoh yang penulis gambarkan lewat tokoh yang ada dalam novel tersebut. Tokoh Arai yang sejak kecil telah menjadi yatim piatu justru di gambarkan oleh andrea hirata menjadi tokoh yang mnegajarkan kepada Ikal untuk terus bermimpi. Sungguh sangat membangkikan semangat ketika Aria menasehati Ikal untuk terus bermimpi. Sungguh sangat membvangkitkan semangat ketika Arai menasehati Ikal ketika Iakal melorot drastic rangkingnya. Dapat kita kutip dari perkataan Arai kepada Ikal,” Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!”(halaman 153)
Selain mengambarkan betapa super powernya kekuatan mimpi, dalam novel ini Andrea Hirata juga menceritakan kebijaksanaan seorang ayah yang begitu besar pengorbanan dan ketulusan seorang ayah dalam mendukung mimpi anaknya di tangah keetrbatasan hidupnya yang menjadikan semangat tak terbeli bagi Ikal dalam belada yang begitu mangharu biru. Kesabaran seorang ayah dan rasa sayang seorang anak yang luar biasa besarnya kepada sang ayah menyempurnakan novel ini menjadi bacaan yang begitu kolosal dan sarat akan pesan-pesan moril.
Angkat topi untuk Andrea Hirata yang begitu telah berhasil membuat sungguh kisah yang kental dengan budaya melayu namun sangat cerdas dan saintifik. Tak hanya bisa membuat seseorang kembali membangun mimpi-mimpinya, novel ini juga bisa menambah rasa hormat kita kepada sang ayah dan mencintainya dengan tulus meskipun di tengah kondisi yang sangat terbatas.
3.      Isi
1)      Unsur intrinsik
·         Tema
Tema yang tersirat dalam novel sang pemimpi ini tak lain merupakan “persahabatan dan perjuangan dalam mengarungi kehidupanserta kepercayan terhadap kekuatan sebuah mimpi atau pengharapandan cita-cita”. Hal itu dapat di buktikan ddari penceritaan perkalimatnya dimana Andrea Hirata berusaha mengambarkan begitu besarnya kekuatan mimpi sehingga dapt membawa seseorang menerjang kerasnya kehidupan dan batas kemustahilan dalam hidup ini.
·         Latar
Dalam novel ini disebutkan latarnya itu di pulau Magai Balitong, los pasar dan dermaga pelabuhan, di gedung bioskop, di sekolah SMA Negeri Bukan Main, terminal Bogor, dan Pulau Kalimantan. Waktu yang di tergambar dalam novel itu pagi, saing, sore dan malam hari, latar nuansanya lebih berbau melayu dan gejolak reaja yang di selimuti impian-impian yang begitu membanggakan bagi para remaja.
·         Penokohan dan perwatakan
Ikal                  : baik hati, optimisme, pantang menyerah, penyuka bang
                          Rhoma,
Arai                 : pintar, penuh inspirasi/ide baru, gigih, rajin, pantang
  menyerah,
Jimbron           :  polos, gagap bicara, baik, sangat antusias pada kuda,
Pak Balia         : baik, bijaksana, pintar,
Pak Mustar      : galak,pemarah, berjiwa keras,
Ibu Ikal           : baik, penuh kasih sayang,
Ayah Ikal        : pendiam, sabar, penuh kasih sayang, bijaksana dan tokoh
  Lain Mahader A, Kiun, Paj Cik, Basman, Taikang,
  Hanim, Capo, Bang Zaitun, pendeta Geovanny, mak Cik
  dan Laksmi adalah tokoh pendukung dalam novel
  tersebut.
·         Alur
Dalam novel sang pemimpi ini menggunakan alur gabungan(alur maju dan alur mundur). Alur maju ketika pengarang menceritakan dari mulai kecil sampai dewasa dan alur mundur ketika menceritakan peristiwa waktu kecil pada saat sekarang/dewasa.
·         Gaya Penulisan
Gaya penceritaan novel ini sangat sempurna, yaitu kecerdasan kata-kata dan kelembutan bahasa puitis berpadu tanpa ada unsure repetitive yang membosankan. Setiap katanya mengandung kekayaan bahsa sekaligus makna apik dibalik tiap-tiap katanya, selain itu dalam novel ini juga menulis  dengan gaya realis bertabur metafora, penyampaian cerita yang cerdas dan menyentuh, penuh inspirasi dan imajinasi. Komikal dan banyak mengandung letupan intelgensi yang kuat sehingga pembaca tanpa disadari masuk dalam kisah dan karakter-karakter yang penulis sampaikan dalam novel sang pemimpi ini.
·         Amanat
Amanat yang disampaikan dalam novel sang pemimpi ini adalah jangan berhenti bermimpi. Hal itu sangat jelas pada tiap-tiap subbab yang pada prinsipnya manusia tidak akan pernah bisa untuk lepas dari sebuah m9mpi dalam menjalani kehidupan yang di hadapinya serta keinginan besar dalam kehidupan. Hal itu secara jelas di gambarkan Andrea Hirata dalam Novel sang Pemimpi dengan maksud memberikan titik terang kepada manusia yang mempunyai mimpi besar namun terjal oleh segfala keterbatasan yang kita miliki.
·         Sudut pandang
Sudut dalam novel ini sebagai”orang pertama”(akuan), dimana penulis memposisikan dirinya sebagai tokoh Ikal dalam cerita tersebut. 
2)      Unsur Ekstrinsik
·         Nilai Moral
Nalai moral yang terkandung dalam novel ini sangat kental. Sifat-sifat yang tergambar menunjukkan rasa humanis yang terang dalam diri seorang remaja, tangguh dalam menyikapi kerasnya kehidupan, di sini, tokoh utama digambarkan sebagai sosok remaja yang mempunyai perangai atau sifat yang baik dan rasa setia kawanan yang begitu tinggi.
·         Nilai Sosial
Ditinjau dari segi sosialnya, novel ini begitu kaya akan nilai sosial. Hal itu di buktikan rasa setia kawan yang begitu tinggi antara tokoh Ikal dan Arai, dan Jimbron. Masing-masing saling mendukung dan membantu antara satu dengan yang lain dalam mewujudkan impian-impian mereka sekalipun hampir mencapai batas sebagai orang Balitong, dalam keadaan kekurangan pun masih dapat saling membantu satu sama lain. 
·         Nilai Adat Istiadat
Nalai adat di sini juga begitu kental terasa. Adat kebiasaan pada sekolah tradisional yang masih mengharuskan siswanya mencium tangan kepada gurunya, ataupun mata pencarian warga yang sangat keras dan kasar yaitu sebagai kuli tambang timah tergambar jelas di novel karangan Andrea Hirata ini. Sehingga menambah khazanah budaya yang lebih Indonesia.
·         Nilai Agama
Nilai agama pada novel ini juga secara jelas tergambar, terutama pada bagian-bagian dimana ketiga tokoh ini belajar dalam sebuah pondok pesantren. Banyak aturan-aturan islam dan petuah-petuah Taikong(kyai) yang begitu hormat mereka patuhi. Hal itu juga yang membuat novel ini begitu kaya akan nialai keagamaan.
4.      Kelebihan dan kekurangan  
·         Kelebihan
Banyak kelebihan- kelebihan yang did pat kita lihat dalam novel ini. Mulai dari segi kekayaan bahasa sehingga kekuatan alur yang mengajak pembaca masuk dalam cerita hingga merasakan tiap latar yang terdiskripsikan secara sempurna. Hal ini tak lepas dari kecerdasan penulis memainkan imajinasi berfikir yang dituangkan dengan bahsa-bahasa intelektual yang berkelas. Penulis juga menjelaskan tiap detail latar yang mem-background-I adengan demi adegan sehingga pembaca selalu menantikan dan menerka-nerka setiap hal yang terjadi. Selain itu, keleboihan lain dari novel ini yaitu kepandaiaan Andrea Hirata dalam mengeksplorasikan karakter-karakter sehingga kesuksesan pembawaan yang melekat dalam karakter tersebut begitu kuat.
·         Kelemahan
Pada dasarnya novel ini hamper tiada kelemahan. Hal itu disebabkan karena penulis dengan cerdas dan apik mengambarkan keruntutan alur, deskripsi, setting, dan eksplorasi kekuatan karakter.
Namun dalam novel sang pemimpi ini banyak sekali menggunakan kata yang berasal dari bahasa inggris dan bahasa daerah, saya sendiri sebagai seorang pembaca yang minim sekali pengetahuan terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam novel tersebut tidak mengerti istilah-istilah yang di gunakan tersebut, misalnya seperti kata-kata, punchbag, hupo, ngambat, capo, peregasan. Istilah-istilah ini dalam novel sang pemimpi ini tidak disertai penjelasan sehingga sebagai pembaca saya mengetahui makna dari istilah yang di gunakan dalam novel sang pemimpi tersebut.
5.      Kesan
Dalam novel ini penulis juga menegaskan kepada kita pembaca bahwa kita harus memiliki mimpi untuk terus berjuang dan mencapai sebuah keinginan yang kita harapakan. “ tampa mimpi. Orang seperti kita akan mati…”(halaman 153). Novel sang pemimpi mampu membangkitkan dan menyalakan api mimipi-mimpiku yang telah kupendam dengan berbagai realitas yang ada. Ternyata memang benar bahwa, terkadang realitas adalah racun bagi sebuah optimisme(sang pemimpi). Dengan segala kenyataan yang ada terkadang mampu membuat rasa optimisme pada diri kita padam begitu saja. Setelah membaca novel sang pemimpi, aku merasa perlu untuk menyajikan sebuah mimpi untuk memotipasi hidup karena tidak ada hal yang tidak mungkin atau mustahil jika kita berani untuk bermimpi dan berusaha untuk meraihnya.


DAFTAR PUSTAKA

Elly. 2006. Ilmu Sosial dan badaya Dasar. Jakarta. Kencana.
Hirata , Andrea. 2008. Novel sang Pemimpi.yogyakarta.PT. Bentang Pustaka.
Endraswara, Suwardi. 2008.Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta. Medpress.
Wawancara masalah kritik sastra dengan dosen pengampuh Kritik Sastra Universitas Borneo tarakan( Ibu Inung), Erna Wahyuni( dosen Sosiologi sastra), dan Muhammad Tobroni ( dosen Sastra anak dan Metodologi Penelitian). Ibu Ranti ( dosen Apresiasi Prosa).

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

http://www.youtube.com/watch?v=gBA3-ShEJV0&feature=player_detailpage
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Blogroll

About